Gastronomi Kota Padang

 


Menyatu dengan Filosofi “Alam Takambang Jadi Guru” Untuk Padang Kota Gastronomi dan Pariwisata Berkelanjutan"

Yusmaridi. M 1*

1Guru SD Negeri Percobaan Padang, Dikbud Kota Padang

*yusmaridi.m@gmail.com

 

Menjelajahi Rasa, Tradisi, dan Kearifan Alam dalam Setiap Sajian Minangkabau

 

Pendahuluan

Ketika CNN menobatkan rendang sebagai makanan terenak di dunia, dunia pun seolah menoleh ke arah Sumatra Barat, khususnya Kota Padang. Siapa yang tidak mengenal nasi Padang, dengan rendang, gulai, dan sambal lado yang melegenda? Namun, jauh di balik kelezatan itu, ada kisah yang lebih dalam menyangkut falsafah hidup orang Minang yang berakar dari pepatah agung “Alam Takambang Jadi Guru”. Falsafah ini mengajarkan bahwa segala ilmu kehidupan dapat dipetik dari alam. Dalam konteks gastronomi, falsafah itu menjelma menjadi cara masyarakat Minangkabau memilih bahan, mengolah, hingga menyajikan makanan.

Kota Padang tidak sekadar ibu kota Sumatra Barat, tetapi juga wajah peradaban Minangkabau. Dari kota inilah kuliner Minang menyebar ke seluruh penjuru nusantara, bahkan ke mancanegara. Rumah makan Padang kini hadir di hampir semua kota besar di Indonesia, menjadikannya salah satu ikon kuliner nasional.

Keistimewaan kuliner Padang terletak pada kekayaan rasa yang lahir dari kearifan lokal. Bahan pangan diperoleh dari alam sekitar seperti kelapa, cabai, serai, kunyit, dan daging sapi atau ayam yang dipelihara masyarakat. Semua berpadu dalam harmoni bumbu yang kaya. Namun, keunikan sejati gastronomi Padang bukan hanya pada rasa, melainkan juga pada nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Seperti kata pepatah Minang, “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”, makanan pun menjadi bagian dari manifestasi adat dan agama yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari.

 

Alam sebagai Sumber Rasa dan Nilai serta Asa Padang Kota Gastronomi

Alam takambang jadi guru.” Ungkapan ini begitu akrab di telinga masyarakat Minangkabau. Sebuah falsafah yang sederhana, namun dalam maknanya, bahwa segala sesuatu yang ada di alam adalah sumber ilmu, inspirasi, dan teladan bagi kehidupan manusia (Navis, 1984). Falsafah “Alam Takambang Jadi Guru” menempatkan alam sebagai ruang belajar utama. Masyarakat Minang meyakini bahwa dari alam, manusia bisa belajar tentang keseimbangan, kesabaran, dan keberlanjutan. Filosofi ini ternyata tidak hanya hidup dalam tutur kata atau pepatah adat, tetapi juga meresap dalam setiap sajian kuliner Minangkabau yang berpusat di Kota Padang. Hari ini, falsafah itu menemukan relevansinya kembali dalam konsep gastronomi, yaitu seni, ilmu, dan budaya tentang makanan. Gastronomi bukan hanya tentang rasa, tetapi juga identitas, kearifan lokal, dan daya tarik wisata yang mampu mengangkat nama suatu daerah hingga ke panggung dunia (Santich, 2004).

Dalam dunia kuliner, prinsip ini terlihat jelas. Rendang, misalnya, dimasak perlahan dengan api kecil selama berjam-jam. Proses itu mengajarkan kesabaran dan ketekunan. Santan yang berasal dari kelapa melambangkan kehidupan yang bersumber dari alam tropis. Cabai dari ladang melambangkan semangat, sedangkan aneka rempah menghadirkan kekayaan rasa sekaligus simbol keberagaman. Dengan demikian, makanan bukan hanya hasil olahan bahan, tetapi juga cermin filosofi hidup. A.A. Navis, (1984) mengungkapkan bahwa “Adat Minangkabau adalah cermin kebijaksanaan alam yang diturunkan ke dalam perilaku sehari-hari”. Ya, di meja makan orang Padang, setiap suapan rendang, gulai, atau sambal lado bukan sekadar kenikmatan rasa. Lebih dari itu, ia adalah cermin kearifan hidup, hasil belajar dari alam, sekaligus warisan budaya yang mengajarkan nilai kesabaran, keberagaman, hingga keberanian. Inilah keistimewaan gastronomi Padang, kuliner yang bukan hanya lezat di lidah, tetapi juga kaya akan filosofi kehidupan (Yulistia, 2020).

Setiap makanan Minang menyimpan makna filosofis. Rendang, sebagai ikon utama, memiliki simbol sosial yang dalam. Menurut tafsir budaya, daging melambangkan pemimpin, santan mewakili kaum cerdik pandai, cabai melambangkan ulama, dan bumbu pelengkap melambangkan masyarakat luas. (Amir, 2011). Daging dimasak perlahan hingga empuk, dengan bumbu yang meresap sempurna. Proses panjang ini melambangkan bahwa hasil terbaik hanya bisa diperoleh melalui kesabaran (Yulistia, 2020). Kesempurnaan rasa hanya tercapai ketika semua unsur berpadu, sebagaimana harmoni sosial tercipta ketika semua elemen masyarakat saling mendukung.

Gulai, dengan kuah santan yang kaya bumbu, menggambarkan pluralitas masyarakat Minang. Setiap bumbu berbeda rasa, namun ketika bersatu, menghadirkan harmoni yang lezat. Setiap jenis gulai, baik gulai ayam, ikan, maupun sayur, selalu menghadirkan perpaduan rasa yang berbeda, namun tetap serasi (Pramono, 2015). Ini adalah cermin bahwa keberagaman, bila dikelola dengan baik, dapat melahirkan kekuatan.

Sambal lado yang pedas melambangkan keberanian dan ketegasan. Rasa pedasnya membakar lidah, namun sekaligus membangkitkan energi (Susanto, 2018). Orang Minang dikenal berani merantau, mengambil risiko, dan menghadapi tantangan hidup. Filosofi itu terwujud dalam rasa pedas yang tajam, membangkitkan semangat. Dengan demikian, makanan Minang bukan sekadar olahan dapur, melainkan narasi hidup yang kaya simbol. Buya Hamka (1982), menyatakan “Hidup yang tidak berpedomankan kepada adat, ibarat perahu yang hanyut terbawa arus”. Begitu pula makanan tanpa falsafah, ia hanya sekadar rasa, tanpa makna yang lebih dalam.

Konsep “Alam Takambang Jadi Guru” menekankan pentingnya membaca, memahami, dan meneladani hukum alam. Orang Minang melihat bahwa segala sesuatu yang ada di alam dapat dijadikan pedoman hidup, termasuk dalam pemilihan bahan makanan, cara pengolahan, hingga tata cara menyajikan hidangan (Amir, 2011). Filosofi ini menjadikan gastronomi Padang bukan hanya praktik kuliner, melainkan sistem pengetahuan yang menyatu dengan kosmologi budaya Minangkabau. Di balik setiap hidangan, tersimpan filosofi dan kisah panjang interaksi manusia dengan alam. Gastronomi di sini tidak hanya bicara rasa, tapi juga budaya, tradisi, hingga nilai kehidupan yang diwariskan turun-temurun (Pramono, 2015).

Dalam kajian budaya, makanan sering dipandang sebagai “teks” yang bisa dibaca dan menyimpan lapisan makna. Makanan menyimpan pesan, simbol, dan identitas. Kuliner Minang adalah salah satu contoh terbaik. Rendang bukan hanya makanan, melainkan representasi sistem sosial. Rumah makan Padang yang tersebar di seluruh nusantara menjadi sarana diplomasi budaya, memperkenalkan nilai-nilai Minangkabau melalui makanan. Bahkan dalam acara adat, makanan memegang peran penting. Hidangan dihidangkan dalam alek nagari bukan sekadar untuk kenyang, tetapi sebagai simbol kebersamaan dan penghormatan. Dengan demikian, gastronomi Padang adalah teks budaya yang mengkomunikasikan identitas Minangkabau ke dalam ruang sosial, politik, bahkan global. Hal ini sejalan dengan pendapat Santich (2004) yang menyatakan bahwa gastronomi mencakup hubungan antara makanan, budaya, dan lingkungan.

Rendang sudah berkali-kali masuk daftar “World’s Best Foods” versi CNN Travel. Pada tahun 2021, UNESCO juga menegaskan pentingnya gastronomi Indonesia, termasuk Minangkabau, sebagai warisan budaya tak benda. Prestasi ini membuktikan bahwa makanan Minang bukan hanya milik masyarakat lokal, tetapi sudah menjadi khazanah global. Namun, globalisasi membawa tantangan. Rumah makan Padang di luar negeri sering kali menyesuaikan rasa agar cocok dengan lidah lokal. Hal ini menimbulkan dilema dan tantangan, bagaimana menjaga otentisitas rasa dan filosofi di tengah tuntutan pasar global? Jika tidak hati-hati, kuliner Minang bisa terjebak pada komersialisasi yang kehilangan ruh filosofinya. Tantangan lainpun akan muncul ketika hilangnya filosofi ini dalam gastrionomi Padang, diantaranya: 1) dampak lingkungan yaitu pada produksi pangan dan bahan baku kuliner, seperti rempah, daging, dan sayuran, jika tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan kerusakan tanah, deforestasi, penggunaan air yang berlebih, serta limbah makanan dan plastik. 2) Kehilangan budaya lokal yaitu pada modernisasi dan tuntutan pasar bisa menyebabkan perubahan rasa asli, penggunaan bahan impor, atau modifikasi resep yang mengabaikan nilai tradisi. 3) Kepedulian masyarakat dan kesadaran keberlanjutan yaitu kesadaran tentang pentingnya keberlanjutan, keamanan pangan, penggunaan bahan lokal dan etis, serta konservasi alam belum merata.

Kota Padang, sebagai pusat gastronomi Minang, memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keaslian tersebut. Melalui festival kuliner, promosi wisata gastronomi, dan pendidikan budaya, nilai-nilai falsafah “Alam Takambang Jadi Guru” harus terus dipertahankan dan disebarkan. Baru-baru ini pemerintah kota Padang dan komunitas lokal telah menginisiasi berbagai program untuk mengangkat Padang sebagai Kota Gastronomi UNESCO dan memperkuat identitas kuliner sebagai daya tarik pariwisata (Antara Sumbar). Komitmen yang kuat disertai dengan merangkul dan melibatkan berbagai pihakpun dilakukan Pemko Padang. Program seperti Festival Gastronomi dalam Hari Jadi Kota Padang, revitalisasi kawasan Kota Tua, dan branding “Taste of Padang Experience: Road to Gastronomy City” adalah sebagian dari strategi untuk memperkuat pariwisata berbasis gastronomi (Infopublik). Festival Gastronomi saat Hari Jadi Kota Padang ke-356 (3-10 Agustus 2025) dengan tema Taste of Padang Experience: Road to Gastronomy City bertujuan memperkuat identitas kuliner dan budaya Padang sebagai bagian dari visi menuju Kota Gastronomi UNESCO. (HarianHaluan.id).

Pada momentum yang lain, penyajian hidangan khas Minang dalam Makan Bajamba di Hari Jadi Kota (HJK) Padang ke-356 juga berhasil memikat hati berbagai kalangan mancanegara diantaranya Datuk Zoya, Ketua Saudagar Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) asal Malaysia yang takjub dengan gulai khas Minang (Padang). Pengakuan ini semakin memperkuat asa Pemko Padang untuk menjadikan Padang kota gastronomi. Menoleh kebelakang, sebelum istilah gastronomi ini menggema di Kota padang seperti saat ini, Pemerintah Kota Padang, bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, telah mendorong Padang menjadi bagian dari UNESCO Creative Cities Network bidang gastronomi (Tempo.co, 2022). Beberapa langkah strategis yang sudah ditempuh antara lain: Festival Kuliner, seperti Festival Rendang yang memperkenalkan kuliner Minangkabau ke tingkat nasional dan internasional. Penguatan UMKM Kuliner, pelatihan digitalisasi, sertifikasi halal, dan peningkatan kualitas produk. Integrasi dengan Pariwisata, menjadikan wisata kuliner sebagai daya tarik utama dalam paket wisata Padang dan Sumatera Barat.

Semangat menjadikan padang kota Gastronomi tidak hanya sampai disana, Pemko Padang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang mengintensifkan penerapan program keminangkabauan baik secara intrakurikuler maupun melalui kegiatan rutin pagi setiap hari Selasa di sekolah-sekolah Kota Padang. Kegiatan ini memiliki relevansi penting dalam membentuk generasi yang memahami, melestarikan, dan mempraktikkan nilai-nilai budaya lokal sebagai identitas daerah. Urgensinya terletak pada kebutuhan memperkuat karakter dan kebanggaan budaya siswa di tengah arus globalisasi, sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjadi duta budaya dalam mendukung visi Padang sebagai kota gastronomi dunia. Analisisnya menunjukkan bahwa pembelajaran terintegrasi budaya tidak hanya berdampak pada penguatan kearifan lokal, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan pariwisata berkelanjutan melalui pelestarian kuliner, tradisi, dan nilai kemasyarakatan Minangkabau yang menjadi daya tarik wisata budaya dan gastronomi. Hal ini sejalan dengan perspektif pariwisata, bahwa gastronomi Padang memiliki daya tarik global. Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati makanan, tetapi juga untuk memahami cerita, tradisi, dan nilai yang terkandung dalam setiap hidangan (UNESCO, 2021). Gastronomi merupakan bagian dari Creative Cities Network yang menempatkan makanan bukan sekadar konsumsi, melainkan identitas budaya dan daya tarik wisata

Keseriusan Pemko Padang dalam mewujudkan Padang sebagai kota gastronomi juga tercermin dari kemampuannya memanfaatkan setiap momentum strategis, seperti HUT KORPRI ke-54, dengan menyelenggarakan lomba menulis artikel bagi ASN bertema gastronomi. Langkah ini menunjukkan bahwa program gastronomi tidak hanya diarahkan pada sektor kuliner dan pariwisata semata, tetapi juga diinternalisasikan ke dalam ranah birokrasi dan literasi aparatur. Dengan cara ini, Pemko Padang tidak hanya menggalakkan promosi budaya kuliner Minangkabau, tetapi juga menumbuhkan kesadaran, pemahaman, dan keterlibatan aktif ASN sebagai agen perubahan yang dapat menyebarkan nilai gastronomi secara luas, sehingga visi kota gastronomi dapat diwujudkan secara berkelanjutan.

Analisis dan Refleksi

Penelaahan lebih jauh dan lebih dalam, falsafah “Alam Takambang Jadi Guru” sesungguhnya sangat relevan dengan isu global kontemporer. Dunia saat ini menghadapi krisis lingkungan, degradasi alam, dan ancaman keberlanjutan pangan. Orang Minang sejak lama sudah meletakkan prinsip bahwa makanan harus lahir dari penghormatan terhadap alam. Selain itu, gastronomi Padang dapat menjadi instrumen diplomasi budaya yang kuat. Kuliner Minang bukan hanya sarana ekonomi (melalui rumah makan Padang yang tersebar di mana-mana), tetapi juga instrumen soft power Indonesia di kancah internasional. Melalui makanan, nilai-nilai Minangkabau tentang harmoni, keberagaman, dan keberanian bisa diperkenalkan ke dunia. Namun, tantangan tetap ada. Modernisasi, gaya hidup instan, dan globalisasi dapat mengikis nilai-nilai filosofis di balik makanan. Karena itu, perlu ada strategi pelestarian, mulai dari dokumentasi resep tradisional, pendidikan kuliner berbasis kearifan lokal, hingga regulasi yang mendukung pariwisata gastronomi berkelanjutan di Kota Padang.

Gastronomi Padang bukan hanya soal perut kenyang. Ia adalah warisan budaya, sekaligus cermin kearifan hidup. Melalui makanan, kita diajak belajar dari alam, tentang kesabaran, keseimbangan, keberagaman, dan keberlanjutan. Falsafah Minang mengingatkan bahwa makanan terbaik adalah yang lahir dari kearifan lokal, menghormati alam, dan memberi nilai bagi kehidupan. Jadi, lain kali ketika Anda menyantap sepiring rendang atau gulai di rumah makan Padang, ingatlah, Anda sedang belajar dari alam. Karena dalam setiap rasa, tersimpan pelajaran kehidupan yang diwariskan oleh nenek moyang Minangkabau. Kenyataan ini juga menguatkan bahwa bagi orang Minangkabau meja makanpun menjadi sarana belajar bahkan orang Minangkabau dapat belajar dari setiap suapan dan belajar dari setiap rasa.

Gastronomi Padang adalah ruang tumpu antara kearifan alam “Alam Takambang Jadi Guru” dan tekanan ekonomi politik modern. Peluang internasionalisasi dan pendapatan besar nyata, namun tanpa kebijakan prokomunitas, adaptasi iklim, dan pengelolaan autentisitas, ada risiko erosi nilai budaya dan ketidakberlanjutan ekologis. ASN yang menulis atau merancang program berbasis kuliner harus memadukan konservasi budaya, ketahanan pangan, dan inovasi ekonomi, sehingga rasa bukan hanya menjadi komoditas, melainkan wahana pembelajaran dan kesejahteraan yang berkelanjutan.

Lebih jauh, falsafah “Alam Takambang Jadi Guru” mengajarkan bahwa gastronomi harus selaras dengan keberlanjutan. Dalam konteks modern, hal ini dapat menjadi kritik atas gaya konsumsi instan dan industrialisasi pangan yang sering mengabaikan kelestarian alam. Gastronomi Padang memberi pelajaran bahwa makanan yang baik adalah yang lahir dari kearifan lokal, menghormati proses alam, dan membawa nilai bagi masyarakat. Banyak rumah makan Padang di luar negeri yang menyesuaikan rasa agar diterima lidah masyarakat setempat, sehingga memberi ruang mengaburkan nilai filosofisnya. Padahal, justru dalam keaslian itulah terkandung pelajaran dari falsafah “Alam Takambang Jadi Guru”.

Untuk menjadikan gastronomi Padang berkelanjutan dengan filosofi Alam Takambang Jadi Guru, selain Upaya yang telah dilakukan, terdapat beberapa strategi bisa diterapkan: Pemanfaatan bahan lokal dan keberlanjutan sumber daya, Mendukung pertanian lokal, kebun rempah, peternakan lokal yang ramah lingkungan agar bahan baku kuliner berasal dari sumber yang berkelanjutan. Pelestarian resep dan praktik tradisional, Mendokumentasikan resep tradisional asli dan cara pengolahan yang mempertahankan cita rasa asli (misalnya teknik memasak, penggunaan daun, rempah, metode awetan). Mengintegrasikan nilai-nilai budaya ke dalam pengalaman wisata kuliner, seperti makan bajamba, cara penyajian di rumah gadang, atau pola adat dalam berbagi makanan. Desain wisata gastronomi sebagai bagian dari ekowisata dan wisata budaya, Menggunakan alam sekitar sebagai konteks belajar dan pengalaman kuliner, misalnya tur ke kebun rempah, panen bersama, belajar memasak dengan bahan langsung dari alam (agro-tourism). Menggabungkan lanskap alam dan budaya dalam rute wisata seperti revitalisasi kawasan Kota Tua Padang sebagai ruang untuk wisata budaya dan wisata kuliner yang telah mulai diperhatikan. Pengelolaan limbah dan praktik ramah lingkungan, Reduksi limbah makanan dan pengemasan plastic, pengelolaan sampah organik dan air limbah dari industri kuliner, Penggunaan energi terbarukan jika memungkinkan di restoran dan fasilitas wisata kuliner. Pendidikan, penelitian, dan partisipasi komunitas, Melibatkan masyarakat lokal, tukang masak, pengrajin, petani lokal dalam proses pengembangan gastronomi, Pendidikan formal dan informal yang memasukkan filosofi Alam Takambang Jadi Guru, agar generasi muda memahami pentingnya belajar dari alam dan menjaga alam. Jadi Kolaborasi lintas sektor, pemerintah, akademisi, komunitas, dan UMKM, menjadi kunci keberhasilan Padang sebagai kota gastronomi berkelanjutan

 

 

Penutup

Gastronomi Padang adalah pertemuan indah antara rasa, tradisi, dan filosofi. Gastronomi Padang adalah cermin hidup dari falsafah “Alam Takambang Jadi Guru Rendang, gulai, sambal lado, dan aneka kuliner lainnya tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga mengajarkan nilai hidup yang dalam. Falsafah “Alam Takambang Jadi Guru” menjadikan setiap hidangan Minang sebagai ruang belajar, tentang kesabaran, keseimbangan, keberagaman, dan keberanian. Kota Padang sebagai pusat gastronomi Minangkabau memiliki peran penting menjaga dan mengembangkan warisan ini. Bukan hanya demi identitas budaya, tetapi juga demi diplomasi kuliner Indonesia di mata dunia. Maka, setiap kali kita menyantap sepiring nasi Padang, sesungguhnya kita sedang belajar dari alam, dari leluhur, dan dari filosofi yang abadi. Seperti pepatah Minang berkata: “Alam takambang jadi guru, hidup baraja dari nan ka ado”. Gastronomi Padang mengingatkan kita untuk kembali pada kearifan lokal, menghormati alam, menjaga tradisi, dan menjadikan makanan sebagai jembatan antara manusia dengan filosofi hidupnya.

Filosofi Alam Takambang Jadi Guru menawarkan bingkai nilai yang sangat relevan untuk mengembangkan gastronomi Kota Padang secara berkelanjutan. Dengan menjadikan alam sebagai guru sebagai sumber inspirasi, bahan baku, konteks budaya, dan indikator keberlanjutan Padang dapat memperkuat identitas kuliner, menjaga lingkungan, mendukung kesejahteraan masyarakat lokal, dan menarik wisatawan dengan pengalaman yang bukan hanya “lezat” tapi juga otentik, bermakna, dan bertanggung jawab. Jika strategi pengembangan gastronomi dirancang dan dijalankan dengan sinergi antara pemerintah, komunitas, akademisi, dan sektor swasta, visi menjadi Kota Kreatif Gastronomi UNESCO bisa tercapai sambil tetap menjaga alam dan budaya sebagai guru yang tak tertandingi.

 

Daftar Pustaka

  • Amir, M.S. (2011). Adat Minangkabau: Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang. Jakarta: Mutiara Sumber Widya.
  • CNN. (2011). World’s 50 Most Delicious Foods. [online] Available at: https://edition.cnn.com/travel/article/world-best-food-dishes/index.html [Accessed 20 Sep. 2025].
  • Hamka (1982). Lembaga Budi. Jakarta: Bulan Bintang.
  • Navis, A.A. (1984). Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: PT Grafiti Pers.
  • Pramono, H. (2015) Filosofi Kuliner Nusantara: Dari Tradisi ke Gastronomi. Yogyakarta: Ombak.
  • Santich, B. (2004). The Study of Gastronomy and its Relevance to Hospitality Education and Training. International Journal of Hospitality Management, 23(1), pp. 15–24.
  • Susanto, H. (2018) Kuliner Nusantara: Rasa, Identitas, dan Kearifan Lokal. Jakarta: Kompas.
  • UNESCO (2021) Rendang as Intangible Cultural Heritage. Available at: https://ich.unesco.org (Accessed: 20 September 2025).
  • Yulistia, R. (2020) ‘Rendang sebagai Representasi Kearifan Lokal Minangkabau’, Jurnal Gastronomi Indonesia, 8(1), pp. 25–37.

Sumber berita online

  • Pemerintah Kota Padang. Kulinernya Diakui Enak, Padang Berpotensi Jadi Kota Gastronomi. Berita Kota Padang. (Padang) (Accessed: 15 September 2025).
  • ANTARA Sumbar. Wako Fadly Amran bertekad bawa Padang jadi Kota Kreatif Gastronomi UNESCO. (Antara Sumbar) (Accessed: 15 September 2025).
  • Harian Haluan. Pemko Padang Siapkan Langkah Strategis Menuju Kota Kreatif Gastronomi UNESCO. (HarianHaluan.id) (Accessed: 15 September 2025).
  • ANTARA Sumbar. Wali Kota: Festival gastronomi untuk perkuat identitas Padang. (Antara Sumbar) (Accessed: 15 September 2025).
  • Pemerintah Kota Padang. Revitalisasi Kota Tua Padang, Upaya Menuju Kota Kreatif Gastronomi. (Padang) (Accessed: 15 September 2025).
  • Infopublik. Hari Jadi ke-356, Padang Usung Tema Gastronomi Menuju Pengakuan UNESCO. (Infopublik) (Accessed: 15 September 2025).

·       Tempo.co (2022) Padang didorong jadi kota gastronomi dunia. Available at: https://www.tempo.co (Accessed: 15 September 2025).

Comments

Popular posts from this blog

Ucapan dari Langit

Ketika Kita Mengagumi Korea, Apakah Korea Mengenal Indonesia?

SAYANGKAN (Sabtu yang Menyenangkan)