Ketika Kita Mengagumi Korea, Apakah Korea Mengenal Indonesia?

 


Ketika Kita Mengagumi Korea, Apakah Korea Mengenal Indonesia?

Refleksi Budaya, Martabat Bangsa, dan Kemitraan Strategis RI-Korsel

Oleh: Dr. Yusmaridi. M, M.Pd.Gr, Guru SD Negeri Percobaan Padang-Sumatera Barat

 

Di kelas saya di Padang, ada anak yang hafal nama-nama idol K-Pop jauh lebih fasih daripada nama pahlawan dari Minangkabau. Mereka bisa menyebutkan Jungkook dan Jisoo tanpa tersendat, namun perlu berpikir keras ketika ditanya siapa Rohana Kudus, jurnalis perempuan pertama Indonesia, yang lahir hanya beberapa ratus kilometer dari bangku ia duduk.

Saya tidak menyalahkan anak itu. Saya justru menjadikannya cermin.

Cinta yang tak berbalas setara, mungkin terdengar merendahkan. Namun, data tidak berbohong, Survei Global Hallyu 2024 yang dirilis Kementerian Kebudayaan Korea Selatan menempatkan Indonesia di posisi pertama dari 26 negara sebagai bangsa dengan tingkat ketertarikan tertinggi terhadap budaya Korea yang mencapai 86,3%. Rata-rata orang Indonesia mengkonsumsi konten Korea selama 17 Jam per bulan, jauh diatas rata-rata global 11,6 jam. Satu dari tiga perempuan Indonesia menggemari K-Pop. Drama korea mengalir deras di layar jutaan rumah tangga. Korean BBQ menjamur dari Sabang sampai Merauke.

Indonesia adalah penggemar Korea paling setia di seluruh dunia. Namun dibalik angka yang membanggakan itu ada pertanyaan yang perlu kita jawab dengan jujur, “Apakah Korea Selatan sungguh-sungguh mengenal Indonesia? jawabannya seringkali tidak.

Bayangan yang tak boleh kita tutup mata, ketika kekaguman tidak berbalas penghormatan. Pada 2024, forum daring Indosarang, platform komunitas warga Korea di Indonesia, viral karena memuat komentar yang merendahkan orang Indonesia, mulai dari menghina fisik, melecehkan agama, sampai meremehkan kondisi ekonomi bangsa. Awal 2026, insiden konser DAY6 di Kuala Lumpur kembali memantik perang digital antara warganet Korea dan Asia Tenggara. Komentar bernada rasis tentang warna kulit, fisik, dan tingkat ekonomi masyarakat Indonesia dan negar-negara ASEAN menyebar di platform X dan Threads. Ini bukan sekadar konflik antar netizen, melainkan cermin dari jurang persepsi yang serius.

Survei Komisi Nasional HAM Korea (2019) mencatat bahwa 68,4% penduduk asing di Korea Selatan pernah mengalami diskriminasi rasial. Identitas nasional Korea yang dibangun atas konsep minjok, keyakinan akan kemurnian ras homogen, secara historis melahirkan ekslusivitas yang sulit dicairkan terhadap bangsa-bangsa yang dianggap “lebih rendah” secara ekonomi.

Namun kita harus adil. Para pakar mengingatkan bahwa perilaku sejumlah oknum itu bukan karakter umum seluruh bangsa Korea. Ia adalah gejala ketidaktahuan, dan ketidaktahuan merupakan sesuatu yang bisa diperbaiki. Disinilah justru letak peluang terbesar kita.

Indonesia dan Korea Selatan merupakan Mitra Strategis yang belum sepenuhnya saling mengenal secara mendalam. Di balik riuhnya media sosial itu, ada kenyataan geopolitik yang jauh lebih besar. Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memiliki kemitraan strategis khusus dengan Korea Selatan. Plt. Duta Besar Korea Selatan, Park Soo-deok, menegaskan hal ini dalam kuliah umum di UGM 2025. Kemitraan ini bukan sekadar retorika diplomatik.

Juni 2025, pilot TNI AU Kolonel Penerbang Ferrel Rigonald menerbangkan prototipe jet tempur generasi 4,5 KF-21 Boramae di Pangkalan Udara Sacheon, Korsel, simbol nyata kolaborasi pertahanan dua bangsa yang telah melampaui sekadar jual beli alutsista. Program ini mencakup transfer teknologi, pelatihan teknis, dan produksi bersama yang menyentuh inti kemandirian industri pertahanan nasional. Kerjasama ini juga merambah kecerdasan buatan (AI) dan keamanan siber, variabel utama kekuatan nasional abad ke-21. Mei 2026, Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS) meluncurkan lomba menulis bertema “Kemitraan Strategis RI-Korsel 2026: Pertahanan, AI, dan Pengembangan SDM” sebuah sinyal bahwa diskursus publik tentang pentingnya kemitraan ini perlu diperluas keseluruh lapisan masyarakat.

Pakar pertahanan Dr. Curie Maharani dari universitas Bina Nusantara menegaskan, kerjasama ini memberikan Indonesia akses pada teknologi pertahanan berstandar Barat melalui mitra yang lebih kooperatif, sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk masuk kedalam ekosistem rantai pasok industry pertahanan global. Sementara Korea Selatan membutuhkan Indonesia, bukan hanya sebagai pasar, tetapi sebagai mitra produksi yang strategis di Indo-Pasifik. Namun ia juga mengingatkan sesuatu yang sangat mendasar, “Bukan hanya keahlian SDM yang dibutuhkan untuk menjembatani kolaborasi dan alih teknologi, tetapi juga rasa saling percaya dan memahami budaya kerja masing-masing bangsa.” Kemitraan pertahanan tanpa fondasi saling mengenal adalah bangunan megah di atas pasir.

Soft power satu arah itu berbahaya. Disinilah letak masalah terdalam yang perlu dibicarakan dengan berani. Hallyu adalah instrumen soft power Korea yang terencana, terpadu dan didanai negara. Korean cultural center dibuka di Jakarta. K-Festifal digelar megah. Ratusan ribu wisatawan Indonesia didorong ke Seoul setiap tahun. Semua bukan kebetulan, itu strategi. Namun soft power yang berjalan hanya ke satu arah menciptakan ketergantungan, bukan kemitraan. Ia melahirkan fans, bukan mitra setara. Kemitraan strategis di bidang pertahanan yang melibatkan transfer teknologi militer dan pengembangan SDM bersama, tidak bisa berdiri kokoh di atas fondasi penggemar yang mengidolakan, sementara pihak yang diidolakan tak sungguh-sungguh mengenal siapa mitranya. Bagaimana insinyur Korea bisa berkolaborasi dengan insinyur Indonesia, jika ia membawa prasangka bahwa Indonesia adalah negara yang perlu dikasihani? Ini bukan pertanyaan retorik, tapi tantangan nyata.

Menanggapi ini, memulainya dari ruang kelas adalah fondasi yang paling dalam. Sebagai seorang guru, saya percaya bahwa semua persoalan besar ini punya jawabannya di tempat paling sederhana, didalam kelas, pada anak-anak berusia 7 hingga 12 tahun. Generasi yang akan menjalankan kemitraan strategis RI-Korsel dua puluh tahun kedepan. Para insinyur pertahanan, diplomat, teknisi AI, Prajurit TNI, sedang duduk di bangku SD hari ini, mereka sedang dibentuk karakternya. Jika kita membiarkan mereka tumbuh hanya sebagai konsumen budaya asing tanpa akar kebanggaan terhadap identitasnya sendiri, kita sedang mencetak generasi yang gagap di hadapan mitra strategisnya mereka kelak.

Pendidikan adalah tempat dimana rasa ingin tahu tentang dunia dan kebanggaan atas jati diri bangsa harus berdampingan. Anak yang mengenal K-Pop sekaligus hafal nama Sutan Sjahrir. Anak yang suka drama Korea sekaligus bangga pada trradisi bangsa yang mendunia. Anak yang tahu Seoul sekaligus paham mengapa Borobudur menjadi warisan peradaban yang menggetarkan dunia.

Kurikulum lintas budaya di tingkat SD bukan sekadar tambahan mata pelajaran. Ia adalah investasi diplomasi jangka panjang. Anak yang sejak dini diajarkan menghargai perbedaan budaya, baik budaya nusantara maupun mancanegara, akan tumbuh menjadi SDM yang adaptif, percaya diri, dan mampu bernegosiasi sebagai mitra yang setara, bukan sebagai pemuja yang meminta-minta pengakuan.

Di sinilah guru SD memiliki peran strategis yang sering diabaikan dalam diskursus geopolitik. Kami adalah arsitek dasar bagi generasi yang akan menentukan wajah kemitraan Indonesia di dunia.

Maka dari itu, Indonesia harus menuntut timbal balik yang bermartabat. Jika Indonesia serius menempatkan kemitraan strategis dengan Korea Selatan sebagai pilar pertahanan dan pengembangan SDM nasional, maka pertukaran budaya yang resiprokal bukan lagi pilihan, tetapi suatu keharusan strategis. Beasiswa harus dirancang dua arah. Program studi tentang Indonesia perlu hadir di kampus-kampus Korea. Komunitas diaspora Indonesia di Korea perlu diberdayakan sebagai duta budaya aktif. Setiap program teknis bersama, mulai dari perakitan pesawat hingga pengembangan system siber perlu disertai cultural competency, program yang memastikan kedua belah pihak bekerja dalam kerangka saling menghormati.

Mengagumi Korea itu nyata dan indah. Namun kita juga berhak, bahkan wajib menuntut agar Korea sungguh-sungguh mengenal kita, bukan sebagai pasar atau konsumen, tetapi sebagai bangsa yang merdeka, berperadaban, dan sederajat.

Kemitraan sejati hanya tumbuh diantara dua pihak yang memandang satu sama lain dengan mata yang sama tingginya. Maka membangun generasi yang bisa sejajar, dimulai dari ruang kelas yang paling sederhana. Termasuk ruang kelas saya, di Padang.

Referensi Data

·       2024 Global Hallyu Survei, Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan

·       Survei Komisi Nasional HAM Korea (NHRCK), 2019

·       Kuliah Umum Plt. Dubes Korsel Park Soo-deok, FIB UGM, November 2025

·       Kemhan RI, Penerbangan KF-21 Boramae oleh Pilot TNI AU, Juni-Juli 2025

·       CNN Indonesia, Gaduh Kasus Indosarang, Juni 2024

Comments

Popular posts from this blog

Ucapan dari Langit

SAYANGKAN (Sabtu yang Menyenangkan)